Beranda | Artikel
Mencintai Karena Allah
Rabu, 17 Oktober 2018

Bersama Pemateri :
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi

Mencintai Karena Allah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. dalam pembahasan Kitab Ahsanul Bayan min Mawaqifi Ahlil Iman karya Syaikh Abu Islam Shalih bin Thaha Abdul Wahid rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 14 Muharram 1440 H / 24 September 2018 M.

Download juga kajian sebelumnya: Keyakinan Abu Bakar Terhadap Peristiwa Isra’ Mi’raj

Download kitab أحسن البيان من مواقف أهل الإيمان” versi PDF di sini

Kajian Tentang Mencintai Karena Allah – Kitab Ahsanul Bayan

Dizaman sekarang, sedikit sekali orang yang mencintai karena Allah diantara hamba-hamba Allah yang ada. Dizaman yang materialistis dan cinta dunia telah memenuhi hati-hati mereka. Oleh karena itu, mencinta atau membenci dikalangan mereka dinilai dari dunia. Bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Mencintai karena Allah adalah sesuatu yang sangat kurang, dizaman yang banyak sekali manusia berkumpul karena kemaslahatan dunia dan bukan karena kemaslahatan agama. Banyak orang berfirqoh-firqoh, berpartai-partai, berkelompok-kelompok, sehingga mencintanya karena hizbi, partai, golongan tertentu, kelompok.

Lalu bagaimana mencintai karena Allah itu? 

Ketahuilah bahwa mencintai seseorang karena Allah adalah engkau mencintai seseorang lillah(karena Allah) dan fillah (dijalan Allah). Bukan karena perkara dunia. Kalau kita mencintai saudara kita karena perkara dunia, berarti bukan karena Allah.

Cinta karena Allah tidak didasari karena nasab dan hasab. Bukan karena harta. Bukan karena kedudukan. Bukan karena manfaat yang sifatnya duniawi. Juga bukan karena wathaniyah (kebangsaan). Dan juga bukan karena kelompok hizbiyyah. 

Mencintai seseorang karena Allah adalah karena dia hamba Allah. Dia adalah orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah arti mencintai karena Allah subhanahu wa ta’ala. Kita mencintai saudara kita karena dia mencintai Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita mencintai seseorang karena dia berakhlak dengan akhlak Islam dan beradab dengan adabnya. Kita mencitanya juga karena dia mengajarkan kebaikan kepada manusia. Kita mencintai dia karena dia beramar ma’fur nahi munkar.

Balasan Mencintai Karena Allah

Balasan yang diberikan oleh Allah sangat besar. Oleh karena itu merugilah orang yang mencintai bukan karena Allah. Serta berbahagialah dan beruntunglah orang yang mencintai karena Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau cinta dan benci kita bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala, mari segera kita rubah. Karena cinta dan benci ini merupakan amalan hati yang sangat penting.

Adapun balasan yang akan didapatkan adalah sebagai berikut:

Pertama, mencintai karena Allah memiliki kemanisan yang dirasa oleh seorang mukmin di hatinya. Jadi orang yang mencintai seseorang karena Allah subhanahu wa ta’ala akan mendapatkan manisnya iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ ِممَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَيُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ أنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Ada tiga perkara, yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan rasa manisnya iman. Yaitu: apabila Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada yang selain keduanya, apabila ia menyintai seseorang, namun ia tidak menyintainya kecuali karena Allah. Dan apabila ia membenci untuk kembali ke dalam kekafiran sesudah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, seperti halnya ia membenci jika ia dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari & Muslim)

Jadi kalau ada saudara kita yang rajin shalat, rajin puasa, rajin datang ke kajian, memperlihatkan akhlak dan abad yang mulia, kemudian kita mencintainya, maka kabar gembira. Akan dirasakan manisnya iman.

Kedua, mencintai karena Allah merupakan tali Islam yang paling kuat. Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ: أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ

“Sesungguhnya tali Islam yang paling kokoh adalah kau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah subhanahu wa ta’ala” (HR. Ahmad)

Ketiga, mencinta karena Allah merupakan bukti kesempurnaan iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang shahih dikeluarkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

Barangsiapa mencintai orang lain karena Allah, membenci orang lain karena Allah, ia memberi kepada orang lain karena Allah dan tidak memberi juga karena Allah, maka sungguh imannya telah sempurna.” (HR. Abu Dawud)

Simak Kisah Lengkap dan Download Kajian Tentang Mencintai Karena Allah – Kitab Ahsanul Bayan


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/44910-mencintai-karena-allah/